Tuesday, November 5, 2013

Aku punya cerita.




It happens eventually. Time flies. Time changes our surroundings. And at the end it changes us.



Belum lama sebenarnya, jangka waktu dari terakhir kita bertemu sebenar-benarnya bertemu. 9 September 2013. 2 bulan terakhir; kuantitas waktunya sih gak lama yah. Tapi dunia benar2 dibuat beda oleh si-dua-bulan itu. 
Apa kabar? Aku punya cerita. Banyak. 
Tapi aku, gak bisa memulai apa apa.
Menunggu sih masih.
Kangen sih jelas.
Tapi gak tau deh.. batasan semakin terasa. Aku menjadi gak bisa lagi menjelaskan.
Ingat yang aku bilang 2 bulan lalu? ---Aku ga akan punya waktu selama 2 bulan ke depan.
Kemarin, 4 November, seharusnya menjadi hari yang ditunggu setelah dua-bulan-itu. Tapi toh, ternyata gak ada aksi yang berbeda.


I've got so many things to tell you. 

Entah apa kamu, merasa hal yang sama. Atau tidak memikirkan samasekali. 
Aku gak pernah bisa membaca. 
Aku tau, orang yang aku tuju disini akan marah. Marah besar, saat ia ternyata menemukan tulisan ini.
Aku disini hanya ingin menumpahkan, dengan harapan orang itu gak akan pernah baca ini. Aku kenal kamu, yang selalu meminta keterbukaan dan memang selalu menyempatkan untuk mendengarkan apapun. Tapi maaf, aku yang sekarang gak bisa lagi menyampaikan secara langsung. Aku.. lupa caranya.


"Kebisuan menjebak kami dalam permainan dugaan. Lingkaran tebak menebak agar yang tersirat tetap tak tersurat."



Apa memang akan tiba saatnya melepas sebenar-benarnya melepas?
Entahlah. Belum pernah terbayang atas apa yang akan aku pilih nantinya.
Biarkan dunia berjalan, semesta yang memutuskan.
Yang jelas, aku, akan slalu punya ruang untuk kamu pulang.
Dunia nggak harus tau itu. Tapi aku mohon kamu masih ingat itu. 


"Sincerity", "Commitment".
09 09 13.

Monday, November 4, 2013

Gak berniat cizi kok.


Kemarin; 3 November 2013, buat gua mungkin salah satu hari paling2 campur aduk. Klise sih. Tapi ini beneran.. campur aduk, parah. Seneng iya sedih juga iya. Kelegaan, juga harapan dan ketakutan ikut melebur. Air mata mengucur pun gua gak tau berdasarkan alasan apa; sedih atau bahagia. Yang jelas gue rapuh saat itu, pikiran melayang ditengah tangis dan peluk puluhan orang kesayangan. 'Kesayangan' yang harus segera ditinggalkan dan 'kesayangan' yang akan ke depannya mengisi.

"Pertama kali kalian harus melangkah tanpa kami."
"Tiba saatnya kami semakin menuntut lebih."
***
"Kami, sayang kalian."


Tanpa perlu berucap, peluk dan tangis selalu mampu dipahami. 
Tanpa perlu tersurat, diam diam sama2 mengerti bahwa masing2 merasa tidak ingin meninggalkan; tidak ingin pergi dari lingkaran itu. (>12.00 - 2.52 PM.)


Terima kasih Rantai Emas, telah menjadi sebaik-baiknya kakak yang membimbing. Adik kalian kini telah juga menjadi kakak. Izinkan kami memegang rumah ini tahun ini. Izinkan kami melepas diri; menjadi sebenar - benarnya kakak dan pemimpin.

Teruntuk kalian -- yang paling sayang kami,
Saya, ga pernah nyangka 'tali' ini ternyata bisa menjadi segini kuat-nya.
Terimakasih banyak. Telah pernah menjadi tempat berpulang. Jadi tempat dimana saya menemukan dan slalu bisa menjadi diri sendiri. Terimakasih untuk pelajaran yang tak terbayar-nya.  Selamat beristirahat, A, Teh -- selamat melanjutkan perjuangannya yang kini telah berbeda arah dengan kami. Akan saya sampaikan.. cerita sukses Manuver nanti.







Electra, akan selalu menjadi kenangan.
Terima kasih.